Loading

Sabtu, 11 Januari 2014

ABORTUS IMMINENS


ASKEB ABORTUS IMMINENS


A. PENGERTIAN
- ABORTUS IMMINENS adalah pengakhiran kehamilan sebelum janin dapat mencapai 500 gr atau kurang dari 20 minggu yang ditandai dengan:
• Terdapat keterlambatan datang bulan.
• Terdapat perdarahan, disertai perut sakit (mules).
• Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur kehamilan dan terjadi kontraksi otot rahim.
• Hasil pemeriksaan dalam terdapat perdarahan kanalis servikalis, kanalis servikalis masih tertutup, dapat dirasakan kontraksi otot rahim.
• Hasil pemeriksaan tes hamil masih positif. (Manuaba, 1998:218-219)
B. ETIOLOGI
Penyebab keguguran sebagian tidak diketahui secara pasti tetapi terdapat beberapa faktor sebagai berikut :
1. Faktor pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan.
Gangguan pertumbuhan dapat terjadi karena:
a. Kelainan kromosom
Kelainan yang sering terjadi pada abortus spontan ialah: trisomi poliploidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks. (Sarwono, 1991:303)
b. Lingkungan kurang sempurna
Bila lingkungan di endometrium di sekitar tempat implantasi kurang sempurna, sehingga pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi terganggu.
c. Pengaruh dari luar
Radiasi, virus, obat-obatan dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus.
Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen. (Sarwono, 1991:303)
2. Kelainan pada placenta
Endarteritis dapat terjadi dalam vili koriales dan menyebabkan oksigenasi placenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin.
Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun. (Sarwono, 1991:303)
Gangguan pembuluh darah placenta, di antaranya pada DM. (Manuaba, 1998:215)
3. Penyakit ibu
Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lain-lain dapat menyebabkan abortus toxin, virus dan plasmodium dapat melalui placenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin kemudian terjadilah abortus.
Anemia berat, keracunan, laparatomi, peritonis umum dan penyakit menahun seperti brusellosis, mononukleosis, toksoplasmosis juga dapat menyebabkan abortus walaupun lebih jarang. (Sarwono, 1991:303)
4. Kelainan tractus genitalis
Retroversio uteri, mioma uteri atau kelainan bawaab uterus dapat menyebabkan abortus.
Tetapi harus diingat bahwa retroversio uteri gravidi inkarserata atau mioma submukosa yang memegang peranan penting.
Sebab lain abortus dalam trimester II ialah servik inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada servik, dilatasi berlebihan, amputasi atau robekan servik luas yang tidak dijahit. (Sarwono, 1991:303)
C. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi terjadinya keguguran mulai dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan placenta menyebabkan perdarahan, sehingga janin kekurangan nutrisi dan O2.
Bagian yang terlepas dianggap benda asing, sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkan dengan kontraksi.
Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan seluruhnya sebagian masih tertinggal, yang menyebabkan berbagai penyulit.
Oleh karena itu keguguran memberikan gejala umum sakit perut, karena kontraksi rahim, terjadi perdarahan dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi.
Bentuk perdarahan bervariasi di antaranya :
1. Sedikit-sedikit dan berlangsung lama.
2. Sekaligus dalam jumlah yang besar dapat disertai gumpalan.
3. Akibat perdarahan tidak menimbulkan gangguan apapun, dapat menimbulkan syok, nadi meningkat, tekanan darah turun, tampak anemis dan daerah akral dingin.
Bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi :
1. Umur hamil di bawah 14 minggu, di mana placenta belum terbentuk sempurna, dikeluarkan seluruh atau sebagian hasil konsepsi.
2. Di atas 10 minggu, dengan pembentukan placenta sempurna dapat didahului dengan ketuban pecah diikuti pengeluaran hasil konsepsi dan dilanjutkan dengan pengeluaran placenta, berdasarkan proses persalinannya dahulu disebut persalinan imaturus.
3. Hasil konsepsi tidak dikeluarkan lebih dari minggu sehingga terjadi ancaman baru dalam bentuk gangguan pembekuan darah.

Berbagai bentuk perubahan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan dapat terjadi
1. Mola karnosa: hasil konsepsi menyerap darah, terjadi gumpalan mirip daging.
2. Mola tuberosa: amnion berbenjol-benjol, karena terjadi hematoma antara amnion dan korion.
3. Fetus kompresus: janin mengalami mumifikasi, terjadi penyerapan kalsium dan tertekan sampai gepeng.
4. Fetus papiraseus: kompresi fetus berlangsung terus, terjadi penipisan laksana kertas.
5. Blighted ovum: hasil konsepsi yang dikeluarkan tidak mengandung janin, hanya benda kecil yang tidak berbentuk.
6. Missed abortion: hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan lebih dari 6 minggu. Bila keguguran pada umur lebih tua dan tidak segera dikeluarkan dapat terjadi maserasi dengan ciri kulit mengelupas, tulang belakang kepala berimpitan dan perut membesar karena asites/pembentukan gas. (Manuaba, 1998:216-217)
D. KOMPLIKASI
Keguguran mempunyai penyulit sebagai berikut :
1. Perdarahan
• Dapat terjadi sedikit dalam waktu panjang.
• Dapat terjadi mendadak banyak, sehingga menimbulkan syok.
2. Infeksi
3. Degenerasi ganas
• Keguguran dapat menjadi korio karsinoma sekitar 15%-20%.
• Gejala korio karsinoma adalah terdapat perdarahan berlangsung lama, terjadi pembesaran/perlunakan rahim, terdapat metastase ke vagina atau lainnya.
4. Penyulit saat melakukan kuretage
Dapat terjadi perforasi dengan gejala
• Kiret terasa tembus.
• Penderita kesakitan, syok.
• Dapat terjadi perdarahan dalam perut dan infeksi dalam abdomen. (Manuaba, 1998:219-220
E. PENANGANAN
1. Penanganan awal
Untuk penanganan awal yang memadai segera lakukan penilaian dari:
• Keadaan umum pasien.
• Tanda-tanda syok (pucat, berkeringat banyak, pingsan, tekanan sistolik < 900 mmHg > 112×/menit).
• Bila syok disertai masa lunak di adneksa, nyeri perut bawah adanya cairan bebas dalam cavum pelvis, pikirkan kemungkinan kehamilan ectopik yang terganggu.
• Tanda-tanda infeksi/sepsis (demam tinggi, secret berbau pervaginam, nyeri perut tegang, nyeri goyang portio, dehidrasi, gelisah atau pingsan).
• Tentukan evaluasi medis apakah pasien dapat ditatalaksana pada fasilitas kesehatan setempat atau dirujuk (setelah dilakukan stabilisasi).
2. Penanganan spesifik
ABORTUS IMMINENS
• Tidak diperlukan pengobatan medis yang khusus atau tirah baring secara total.
• Anjurkan untuk tidak melakukan aktivitas secara berlebihan atau melakukan hubungan seksual.
• Bila perdarahan :
□ Berhenti: lakukan asuhan antenatal terjadwal dan penilaian ulang bila terjadi perdarahan lagi.
□ Terus berlangsung: nilai kondisi janin (uji kehamilan/USG), lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain (hamil ektopik/mola).
□ Pada fasilitas kesehatan dengan sarana terbatas, pemantauan hanya dilakukan melalui gejala klinik dan hasil pemeriksaan ginekologik. (Acuan Nasional, 2000:140-151)
I. PENGKAJIAN DATA
A. Data subyektif
1. Biodata
Umur:
• Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk hamil dan persalinan adalah 20-30 tahun. (Hanifa, 1994:23)
• Frekuensi abortus yang dikenal secara klinis bertambah dari 12% pada wanita yang berusia kurang dari 20 tahun menjadi 26% pada wanita berumur di atas 40 tahun. (Williams, 1995:1573)
Paritas:
Resiko abortus spontan kelihatannya semakin meningkat dengan bertambahnya paritas, di samping dengan semakin lanjutnya usia ibu serta ayah (Warburton dan Fraser, 1964, Wilsod dkk, 1986). (Williams, 1995:1573)
Pekerjaan:
Sering dijumpai pada wanita yang bekerja berat karena ovum terlepas sebagian menimbulkan kontraksi yang berakibat perdarahan. (Unpad, 1997:8-9)
2. Keluhan utama
a. Abortus harus diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang perdarahan pervaginam setelah mengalami terlambat haid, sering terdapat pula rasa mules, kecurigaan tersebut diperkuat dengan ditentukannya kehamilan muda. (Hanifa, 1999:304)
b. Dengan keguguran diperlukan beberapa kriteria sebagai berikut: sakit perut, dapat diikuti oleh pengeluaran hasil konsepsi, pemeriksaan hasil tes hamil masih positif atau sudah negatif. (Manuaba, 1998:217)
c. Abortus imminens
• Terdapat keterlambatan datang bulan.
• Terdapat perdarahan, disertai perut sakit (mules). (Manuaba, 1998:218-219)
3. Riwayat kesehatan yang lalu
• Insiden abortus bisa disebabkan oleh hipertiroidisme, DM dan defisiensi progesterone. (Williams, 1995:576)
• Kelainan hormonal, gangguan nutrisi menyebabkan keguguran kehamilan. (Hanifa, 2000:248)
• Anomali congenital (hipoplasi uterus, uterus bikornis dll), kelainan letak dari uterus seperti retroflexi uterus fixota, dapat menyebabkan abortus. (Rustam Mochtar, 1998:210)
4. Riwayat kesehatan sekarang
• Jika herpes genitalis terjadi dalam kehamilan 20 minggu maka angka abortus akan meningkat. (Williams, 1995:576)
• Penyakit ibu yang mendadak seperti pneumone, tifus abdominalis, pielonepritis, malaria dll dapat menyebabkan abortus,
toxin, bakteri, virus atau plasmodium dapat melalui placenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, kemudian terjadilah abortus.
Anemia berat, keracunan, laparatomi, peritonitis umum dan penyakit menahun seperti brusellosis, monomikleosis, toxoplasmosis juga dapat menyebabkan abortus walaupun lebih jarang. (Hanifa, 1999:303)
5. Riwayat kesehatan keluarga
• Peranan faktor paternal dalam proses timbulnya abortus spontan yang pasti translokasi kromosom dalam sperma dapat menimbulkan zigot yang mendapat bahan kromosom terlalu sedikit atau terlalu banyak, sehingga terjadi abortus. (Williams, 1995:560)
• Penyakit bapak: umur lanjut, penyakit kronis seperti TBC, anemia, decompensasi cordis, malnutrisi, nefititis, keracunan (alcohol, nikotin, Pb dll), sinar rontgen, avitaminosis dapat menyebabkan abortus. (Rustam Mochtar, 1990:233)
6. Riwayat kebidanan
a. Riwayat haid
Abortus terjadi pada usia kehamilan < 22 minggu.
Terjadi perdarahan bercak hingga derajat sedang pada kehamilan muda.
Perdarahan masif/hebat pada kehamilan muda. (Saifudin, 2001:146)
b. Riwayat KB
Kontrasepsi pada waktu lampau pernah berkaitan dengan peningkatan insiden abortus, namun kaitan tersebut sekarang sudah tidak ditemukan lagi. Hal tersebut benar untuk kontrasepsi oral dan obat spermissid yang digunakan dalam krem dan jeli kontrasepsi.
Kendai demikian alkon dalam rahim (IUD) berkaitan dengan kenaikan insiden septic setelah kegagalan kontrasepsi.
c. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Bila seseorang pernah mengalami abortus maka cenderung mengalami abortus lagi pada kehamilan selanjutnya. (Rustam Mochtar, 1994:236)
d. Riwayat kehamilan sekarang
• Ibu mengatakan hamil <5 bulan, mengalami mual, muntah.
• Pagi hari terutama trimester I, tetapi menghilang setelah trimester II, sudah dapat TT 2×, tablet Fe maksimal 2 bungkus, kapsul yodium 1×. (Manuaba, 1998:217)
7. Kebiasaan sehari-hari
a. Nutrisi
• Pada saat ini hanya malnutrisi umum sangat berat yang paling besar kemungkinannya menjadi predisposisi meningkatkan kemungkinan abortus. (Williams, 1995:576)
• Malnutrisi, avitaminosis A, C, E, gangguan metabolisme (DM) cenderung menimbulkan abortus incomplete. (Rustam Mochtar, 1994:233)
b. Aktifitas
• Trauma, misalnya: kecelakaan dapat menimbulkan abortus. (Unpad, 1981:9)
• Sering dijumpai pada wanita yang bekerja berat karena ovum terlepas sebagian sehingga menimbulkan kontraksi yang berakibat perdarahan. (Unpad, 1981:8-9)
c. Riwayat ketergantungan
Tembakau diidentifikasikan sebagai zat yang berkaitan dengan peningkatan insiden abortus, alcohol pernah terlibat dalam peningkatan insiden abortus. (Williams, 1995:576)
d. Psikososial dan spiritual
Perangsangan pada ibu sehingga menyebabkan uterus berkontraksi umpamanya terkejut sangat ketakutan. (Rustam Mochtar, 1990:233)
Dalam suatu tinjauan mengenai faktor kepribadian yang berkaitan dengan dengan abortus tuppes dan weil (1962) menemukan adanya 2 tipe wanita yang pada dasarnya belum matang dan wanita bebas yang frustasi. (Williams, 1995:576)
8. Hubungan seksual
Coitus sebaiknya dihentikan pada mereka yang sering mengalami keguguran. (Manuaba, 1998:139)
B. Data obyektif
Pemeriksaan umum
1. Keadaan umum : baik sampai syok (Hanifa, 2002:M9)
2. Tanda vital
• Tensi : Tidak boleh lebih dari 140/90 mmHg.
Sistolik bisa mengalami penurunan kurang dari 90 mmHg.
• Nadi : Normal 60-100×/menit
Bisa mengalami peningkatan lebih dari 112×/menit. (Hanifa, 2002:M9)
Pernafasan : normal 20-24×/menit
• Suhu : Normal 36-37°C
Bila suhu lebih dari normal mungkin adanya infeksi. (Depkes RI, 1993:35)
Pemeriksaan umum
1. Kepala
• Muka : Normal, tidak sembab, ada cloasma gravidarum. (Depkes RI, 1998:110)
Tidak pucat sampai pucat.
• Mata : Konjungtiva palpebra normal berwarna merah muda, bila pucat mungkin anemia.
2. Thorax/buah dada
Mama dan papilla membesar tampak tegak dan tampak lebih hitam karena agak hiperpigmentasi. (Hanifa, 1999:95)
Pada missed abortion mama agak membesar. (Hanifa, 1999:308)
3. Abdomen
• Membesar sesuai umur kehamilan/lebih kecil dari usia gestasi.
• Nyeri perut bawah/sedikit/tanpa nyeri.
4. Genetalia
Pengeluaran perdarahan pervaginam
• Perdarahan bercak sampai sedang
• Perdarahan sedang sampai masif
• Perdarahan lanjut
• Secret vagina
Pemeriksaan khusus
1. Palpasi
• TFU sesuai dengan usia gestasi
• TFU lebih kecil dari usia gestasi/tidak teraba
• Uterus teraba lemas (Hanifa, 1999:308)
2. VT
• Servik uteri masih tertutup
• Servik uteri terbuka dan dapat teraba ketuban. Dan hasil konsepsi dalam cavum uteri atau pada kanalis servikalis
• Besarnya rahim telah mengecil
• Konsistensinya lunak


(Manuaba, 1998:217)
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan air kencing terhadap tes kehamilan masih positif atau sudah negatif. (Manuaba, 1998:217)
2. Darah
Kadar Hb bervariasi tergantung dari jumlah perdarahan.
Hb 11 gr% tidak anemi
Hb 9-10 gr% anemi ringan
Hb 7-8 gr% anemi sedang
Hb < 7 gr% anemi berat
II. DIAGNOSA MASALAH KEBIDANAN
GIP00000 umur kehamilan 8 minggu dengan abortus imminens dengan masalah:
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri perut) sehubungan dengan adanya kontraksi.
2. Cemas sehubungan dengan adanya perdarahan pada kehamilan muda. (Marlyn E.D, 2001:410)
Prognosa : baik bila tidak terjadi komplikasi.

Diagnosa 1
GIP00000 umur kehamilan 8 minggu dengan abortus imminens.
Tujuan : Perdarahan tidak terjadi
Kriteria hasil : • Perdarahan berhenti
• Keadaan umum pasien baik
• Tanda vital dalam batas normal
T : 110/80 - 140/90 mmHg R : 20-24×/menit
N : 60-100×/menit S : 36-37°C
Intervensi :
1. Berikan pengertian pada ibu tentang perdarahan yang dialami.
R/ Ibu tahu tentang kondisinya saat ini dan lebih kooperatif terhadap tindakan yang akan dilakukan.
2. Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas secara berlebihan atau melakukan hubungan seksual.
R/ Dengan istirahat kontraksi uterus akan berkurang dan prostaglandin yang ada dalam sperma akan merangsang kontraksi uterus.
3. Tidak diperlukan pengobatan medis yang khusus atau tirah baring secara total.
R/ Prognosis baik bila perdarahan berhenti dan kontraksi hilang.
4. Bila perdarahan
• Berhenti: lakukan asuhan antenatal terjadwal dan penilaian ulang bila terjadi perdarahan lagi.
• Terus berlangsung: nilai kondisi janin (uji kehamilan/USG, lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain (hamil ektopik/mola).
• Pada fasilitas kesehatan dengan sarana terbatas, pemantauan hanya dilakukan melalui
R/ Untuk melakukan deteksi dini dan apabila ada kelainan akan dapat segera ditangani.
5. Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital.
R/ Untuk mengetahui keadaan pasien.
6. Observasi kontraksi uterus dan perdarahan.
R/ Untuk mengetahui keadaan kehamilan.
7. Anjurkan pada ibu untuk makan/minum dengan gizi seimbang.
R/ Memenuhi kebutuhan nutrisi.
8. Berikan therapy pada ibu.
R/ Untuk memperbaiki kondisi ibu hamil.
9. Lakukan tes urine.
R/ Untuk mengetahui kondisi kehamilan ibu.

Diagnosa 2
Gangguan rasa nyaman (nyeri perut) sehubungan dengan adanya kontraksi uterus.
Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang
Kriteria hasil : • Pasien tidak mengeluh nyeri
• Pasien dapat melakukan teknik distraksi
• Keadaan umum baik
Intervensi :
1. Perhatikan keluhan yang dialami oleh klien.
R/ Klien akan merasa lebih diperhatikan sehingga rasa sakit berkurang.
2. Ajak keluarga untuk menemani klien.
R/ Klien akan merasa lebih tenang sehingga dapat menambah kenyamanan bagi klien.
3. Berikan posisi yang nyaman.
R/ Klien lebih nyaman dan rileks.
4. Ajarkan teknik distraksi.
R/ Dengan teknik distraksi dapat mengalihkan perhatian klien sehingga rasa nyeri dapat berkurang.

Diagnosa 3
Cemas sehubungan dengan adanya perdarahan pada kehamilan muda
Tujuan : Cemas berkurang sampai hilang
Kriteria hasil : • Pasien tenang
• Ekspresi wajah tidak cemas
• Pasien mengerti penjelasan petugas
Intervensi :
1. Temani dan perhatikan keluhan pasien.
R/ Klien lebih tenang sehingga cemas berkurang.
2. Jelaskan proses terjadinya perdarahan.
R/ Menambah pengetahuan klien sehingga lebih mengerti dan kooperatif.
3. Beri pengertian pada ibu bahwa semua ini kehendak Tuhan.
R/ Klien akan tabah menerima kenyataan yang terjadi.
4. Anjurkan pada ibu untuk selalu berdoa.
R/ Ibu lebih tenang menghadapi kondisi saat ini.

1. Data subyektif
a. Biodata Klien Suami
Nama : Ny. “A” Tn. “T”
Umur : 22 tahun 25 tahun
Agama : Islam Islam
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia Jawa/Indonesia
Pendidikan : SD SMP
Pekerjaan : IRT Tani
Penghasilan : - Rp 750.000,- / bulan
Status marital : Kawin/1×/1tahun Kawin/1×/1tahun
Alamat : Teguhan - Paron Teguhan - Paron
b. Keluhan utama
Ibu mengatakan ini hamil yang pertama 2 bulan mengeluarkan darah sedikit-sedikit sejak tanggal 4-1-2010 jam 21.00 WIB disertai perut terasa nyeri dan ibu mengatakan merasa takut kehamilan tidak bisa dipertahankan.
c. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan dahulu
Klien tidak pernah menderita suatu penyakit seperti batuk lama, jantung berdebar-debar, sesak nafas, kencing manis, dan tidak mengalami kelainan alat kandungan.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Pada tgl 4-1-2010 jam 21.00 WIB ibu mengatakan perdarahan sedikit-sedikit disertai nyeri perut. Tanggal 5-1-2010 jam 09.00 WIB ibu datang ke puskesmas untuk periksa.
Pada saat ini ibu tidak menderita penyakit yang dapat menyebabkan abortus seperti herpes genetalis, pnemoni, tifus abdominalis, pielonefritis dan tidak memelihara binatang piarang (penyebab toxoplasmosis).
3) Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga klien tidak ada yang mengalami sesak nafas, kencing manis, penyakit jantung, penyakit menular seperti typhus, batuk lama yang tidak sembuh-sembuh maupun penyakit jantung.
d. Riwayat kebidanan
1) Haid
Menarche umur 15 tahun, haid teratur, siklus 28 hari, lama 5-7 hari, jumlah sedang, ganti pembalut 2-3×/hari, tidak ada gumpalan pada saat haid kadang disertai nyeri perut bagian bawah tapi tidak mengganggu, keputihan sebelum haid, warna jernih, tidak gatal dan tidak berbau.
2) Riwayat KB
Klien mengatakan selama ini belum pernah menggunakan KB apapun, karena keinginan ibu setelah menikah ingin punya anak.
3) Riwayat kehamilan sekarang
Ibu mengatakan hamil yang pertama, terlambat haid 2 bulan, tes kehamilan positif pada tanggal 15-12-2010 kemudian pada tanggal 4-1-2011 mengalami perdarahan, jumlah sedikit disertai nyeri perut. Kemudian tanggal 5-1-2011 ibu periksa ke puskesmas .
e. Pola kebiasaan sehari-hari
1) Nutrisi
Makan 3×/hari, porsi 1 piring habis dengan komposisi nasi, sayur, lauk pauk (tempe, tahu, telur, ikan, daging), buah (pisang, pepaya), minum air putih 6-7 gelas/hari.
2) Aktifitas
Klien tidak bekerja hanya sebagai ibu rumah tangga bekerja di rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci dan memasak.
3) Istirahat
Tidur malam 6-7 jam/hari, mulai jam 21.00-04.30 WIB, tidur siang kadang ½ - 1jam/hari. Tidak mengalami gangguan dalam pola tidur siang maupun tidur malam.
4) Eliminasi
BAB 1×/hari, konsistensi lembek, warna kuning tengguli, BAK 3-4×/hari, warna kuning jernih, tidak mengalami gangguan/keluhan dalam BAB/BAK baik rasa panas ataupun nyeri saat BAK.
5) Personal hygiene
Klien mandi 2×/hari, termasuk gosok gigi, ganti celana dalam, keramas 2×/minggu, cebok dengan air dan sabun tiap kali selesai BAB.
6) Riwayat ketergantungan
Ibu mengatakan tidak pernah minum jamu dan ramuan-ramuan tradisional, tidak pernah merokok dan minum alkohol.
7) Keadaan psikososial dan spiritual
Klien mengatakan takut kalau kehamilannya tidak dapat dipertahankan sebab klien sangat mengharapkan kehamilannya.
8) Hubungan seksual
Selama hamil ini ibu biasa melakukan hubungan seksual 1 minggu sekali.
2. Data obyektif
a. Pemeriksaan umum
1) Keadaan umum : baik
2) Tanda-tanda vital : T : 120/80 mmHg S : 36°C
N : 88×/menit R : 20×/menit

b. Pemeriksaan fisik
1) Kepala : Rambut hitam, kulit kepala bersih, tidak ada ketombe, penyebaran merata tidak mudah dicabut.
2) Mata : Konjungtiva palpebra merah muda, sclera tidak icterus.
3) Muka : Tidak sembab, tidak terdapat chloasma gravidarum, ekspresi wajah tegang dan tampak takut, menyeringai menahan sakit.
4) Gigi dan mulut: Bersih, tidak pecah-pecah, tidak ada stomatitis, mukosa bibir lembab, gigi tidak ada karies.
5) Telinga : Simetris, bersih, fungsi pendengaran normal.
6) Hidung : Bersih, tidak ada sekret, tidak ada polip.
7) Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kelenjar limfe dan tidak ada pembendungan vena jugularis.
8) Dada : Bentuk simetris, bersih, kedua payudara, tegang puting susu menonjol, kolostrum sudah keluar sedikit, warna kekuningan, papila membesar tampak lebih hitam agak hiperpigmentasi.
9) Abdomen : TFU belum merata, striae albicans dan lividae tidak ada, nyeri pada perut bagian bawah, tidak terdapat bekas luka operasi.
10) Genetalia : Terdapat perdarahan bercak pervaginam, jumlah sedikit, vulva/vagina tidak ada kelainan tidak ada kondiloma talata/akuminata
.
11) Ekstremitas : Kedua tangan tidak ada oedema pada jari dan tangan, kedua lengan normal, pada kaki tidak ada varises, oedema, reflek .
Å/Åpatella
12) Anus : Tidak ada hemoroid.

c. Pemeriksaan penunjang
ÅPP tes :
Hb : 11,5 gr%

d. Pemeriksaan khusus
- Palpasi : - TFU belum teraba
- Nyeri perut bagian bawah
VT : - Terdapat perdarahan kanalis servikalis, kanalis servikalis masih tertutup, dapat dirasakan kontraksi uterus, Ø tidak ada.

B. ANALISA DATA
No Diagnosa masalah Data dasar
1. GIP00000, umur kehamilan 8 minggu, mengalami perdarahan, K/U baik, abortus iminens. DS : Ibu mengatakan ini hamil yang pertama, umur kehamilan 2 bulan, mengeluarkan darah sedikit-sedikit sejak tgl 4-1-2011
HPHT: 4-11-2010
DO: K/U baik
- T : 120/80 mmHg S : 36°C
N : 88×/menit R : 20×/menit
VT : V/V taa, tidak terdapat kondiloma talata/akuminata, terdapat perdarahan , kanalis servikalis masih tertutup, dapat dirasakan kontraksi otot rahim, Ø tidak ada.
- TFU belum teraba
- HPL : 11-8-2011
2. Gangguan rasa nyaman (nyeri perut) sehubungan dengan adanya kontraksi DS : Ibu mengatakan nyeri perut bagian bawah.
DO: - T : 120/80 mmHg S : 36°C
N : 88×/menit R : 20×/menit
- Ekspresi wajah tegang dan menyeringai menahan sakit.
3. cen Cemas sehubungan dengan adanya perdarahan pada kehamilan muda DS : Ibu mengatakan takut kalau kehamilannya tidak dapat dipertahankan.
DO: K/U baik
- T : 120/80 mmHg S : 36°C
N : 88×/menit R : 20×/menit
- Ekspresi wajah tegang dan tampak takut
- Ekspresi wajah tegang dan menyeringai menahan sakit

DIAGNOSA MASALAH KEBIDANAN
GIP00000, umur kehamilan 8 minggu, mengalami perdarahan, K/U baik, abortus iminens, dengan masalah :
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri perut) sehubungan dengan adanya kontraksi.
2. Cemas sehubungan dengan adanya perdarahan pada kehamilan muda.
Prognosa baik dan kehamilan dapat dipertahankan jika perdarahan berhenti dan nyeri perut hilang.

C. PERENCANAAN tgl 5-1-2011 jam 10.00 WIB
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan kebidanan diharapkan kondisi ibu baik dan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar